MENDAKI GUNUNG , APA ENAKNYA?

Posted on December 8, 2008 by smandapalacirebon.
Categories: Pembelajaran.

548412739l.jpg

Banyak orang masih bertanya-tanya sampai sekarang,” Apa sih enaknya naik gunung?” Badan capai, dingin, lapar, dan bisa mati juga. Seperti orang kurang kerjaan saja. Tapi, sebenarnya kalau kita tahu trik-trik dalam pendakian gunung. Kegiatan ini ternyata bisa juga dinikmati dan aman-aman saja selama kita tahu batas kemampuan diri sendiri.

Pertama kali yang harus di ketahui dalam perjalanan pendakian gunung adalah bagaimana teknik berjalan. Tentu agak aneh juga kedengarannya. Setiap orang yang punya kaki dan tidak lumpuh pasti bisa berjalan, terus apalagi yang harus dipelajari?

Keseimbangan. Inilah jawaban mengapa kita wajib belajar lagi tentang teknik berjalan di gunung. Di sana, cara berjalan kita tak sama seperti saat kita berjalan di jalan-jalan perkotaan. Di gunung kita harus membawa banyak beban di punggung kita. Kemudian ditambah faktor medan perjalanan yang kadang harus mendaki punggungan-punggungan gunung yang curam, atau melintasi lembah panjang tak bertepi, bahkan kadang-kadang menuruni ceruk-ceruk dalam yang teramat kelam pada akhirnya. Dengan situasi medan seperti itu ditambah dengan beban berat di punggung, maka faktor keseimbangan tubuh adalah mutlak untuk dipelajari.

Maka itu diperlukan harmoni untuk mencapainya. Aturan napas dan gerak langkah haruslah seirama satu sama lainnya. Seperti juga dalam sebuah orkes simfoni, keterpaduan antara pengaturan permainan napas yang disingkronkan dengan gerak langkah yang tidak kaku menjadi sebuah harmonisasi nada tersendiri. Dan jadikan gerak melangkah dalam perjalanan itu sebuah seni tersendiri.

Memang benar ada beberapa prinsip dalam berjalan yang harus dituruti. Seperti melangkahlah dengan langkah-langkah kecil saja. Sebab langkah yang terlalu lebar membuat beban yang dibawa menjadi hanya bertumpu pada satu kaki saja, sehingga membuat keseimbangan kaki menjadi gampang goyah. Selain itu keuntungan lain yangdidapat dengan melangkah kecil-kecil adalah membuat napas lebih mudah diatur. Hal ini berdampak langsung pada sistem penghematan tenaga yang terbuang.

Memang efek samping yang paling kentara dari berjalan dengan langkah kecil ini adalah melambatnya irama jalan. Tapi itu lebih baik adanya daripada berjalan cepat-cepat tapi banyak istirahat yang dibutuhkan. Sedangkan parameter yang dapat dijadikan pegangan untuk mengetahui sampai batas seberapa kita melebihi irama jalan adalah saat kita mulai merasa sulit berbicara dengan rekan seperjalanan. Ini biasanya disebabkan karena irama napas yang mulai tidak teratur dan hal tersebut menjadi tanda bahwa berarti kita berjalan terlalu cepat.

Teknik Istirahat

Buat seorang pehobi mendaki gunung berpengalaman, berjalan terus-menerus selama dua sampai tiga jam tanpa istirahat bukanlah berat. Tingginya jam jalan dan latihan yang terus-menerus membuat stamina dan kekuatan seperti itu bisa diperoleh. Buat ukuran kita, para awam dapat berjalan satu jam terus-menerus dengan diselingi istirahat selama sepuluh menit adalah wajar.

Saat istirahat juga banyak faktor yang harus diperhatikan. Seperti, duduklah dengan kaki menyelonjor lurus ke depan. Karena hal ini dapat melancarkan kembali aliran darah yang sebelumnya hanya terpusat ke kaki. Usahakan cari tempat yang tidak terlalu berangin, karena angin dapat mengerutkan otot yang sedang beristirahat tersebut. Minum air yang berenergi dan bukalah sedikit makanan ringan yang kita bawa, untuk mempercepat proses recovery pada tubuh.

Pendapat yang mengira bahwa meneguk minuman keras di gunung itu baik adalah salah adanya. Memang kehangatan bisa kita dapat dari minuman tersebut tapi pembuluh darah dalam kulit menjadi mengembang dan memberi kesempatan udara dingin masuk ke dalam tubuh. Kehangatan sesaat yang kita terima tidak seimbang dengan akibat setelahnya, yaitu kedinginan dalam jangka waktu lama. Lagipula tak baik bila meminum minuman keras bila sedang dalam berjalan di gunung, selain bisa mengakibatkan mabuk yang bisa berdampak bahaya untuk si pendaki sendiri.

Atur waktu istirahat, jangan terlalu lama juga. Selain sayang pada otot-otot kaki yang sudah memanas dan kencang menjadi mengendur karena kelamaan istirahat. Tapi, bila dirasakan Anda memerlukan istirahat lebih lama dari biasanya itu pertanda Anda berjalan terlalu cepat. Dan bila tiba-tiba tiap setengah jam atau kurang Anda merasa membutuhkan istirahat itu berarti pertanda tubuh kita sudah terlalu lemah dan lelah.

Masalah kelelahan ini haruslah dipertimbangkan masak-masak. Bila hal ini terjadi tak jauh dari puncak tempat tujuan mungkin kita bisa memaksakan untuk mencapainya. Tapi, bila terjadi di tengah perjalanan dan puncak tempat tujuan kita masih terasa jauh dari depan mata lebih disarankan mengambil istirahat panjang, kalau perlu dirikan tenda untuk beristirahat.

Memilih lokasi istirahat juga harus memperhatikan banyak hal. Pilihlah lokasi istirahat yang memiliki pemandangan indah, karena paling tidak secara psikologis menikmati pemandangan dapat mengurangi perasaan lelah yang timbul selama dalam perjalanan. Makan dan minum secukupnya, kalau perlu dimasak dahulu agar hangat dan segar. Baik juga kalau kita memakan sedikit garam untuk menghindari keram.

Medan

Selanjutnya yang perlu diperhatikan saat berjalan di gunung adalah memperhatikan betul medan yang akan kita tempuh. Medan yang berumput dan terjal kadang membahayakan, apalagi saat basah karena hujan atau embun pada pagi hari. Bila kita tak berhati-hati melewatinya, tergelincirlah akibatnya. Apalagi bila kita memakai sepatu yang tidak mempunyai sol ber-‘kembang’ yang layak. Sama juga seperti pada medan yang berlumpur dan becek, cenderung licin dan berbahaya.

Di daerah yang penuh kerikil dan batu-batu tajam disarankan berhati-hati dan tidak bertindak ceroboh. Tidak berbeda juga di saat kita menemui daerah dengan batu-batu besar seperti saat di sungai. Kalau bisa melompat dari satu batu ke batu lainnya lebih disarankan. Tapi ini memerlukan kecepatan gerak dan ketepatan dalam melangkah, karena kadang batu tempat kita berpijak sudah bergulir saat kita akan pindah ke batu yang lain. Faktor kelelahan dan pengalaman juga bisa menjadi acuan bila ingin meloncat-loncat seperti ini. Bila kita sudah terlalu lelah cara yang paling aman adalah dengan menaiki satu per satu batu-batu tersebut dan memeriksa dahulu batu-batu yang akan dipijak agar tidak bergulir nantinya.

Lain lagi bila menemui daerah dengan karakter berpasir. Berjalan mendaki di daerah seperti ini lebih sukar daripada berjalan di atas tanah keras. Setiap kali dua kali melangkah ke atas tanah akan melorot ke bawah sebanyak satu langkah. Kadang-kadang perlulah menyepakkan kaki agar tanah memadat dan tidak melorot lagi. Bila kita menjadi orang kedua kita bisa mempergunakan jalur yang pernah dilalui orang pertama, hal ini bisa menghemat tenaga karena tanah berpasir bekas jejak menjadi lebih padat dan keras.

Juga jangan cepat percaya pada pepohonan kecil-kecil yang berada di pinggir-pinggir tebing. Seringkali pohon tersebut tak cukup kuat untuk menahan tubuh kita, sehingga gampang tercabut saat kita memakainya untuk menahan bobot badan. Pakailah pohon-pohon tersebut hanya sebagai keseimbangan saja.

Jangan terburu-buru mengambil keputusan memotong lintasan yang sudah ada. Memang kadang lintasan tersebut terasa jauh bila kita melewatinya. Tapi percayalah, hal tersebut biasanya dikarenakan faktor mengikuti bentukan alam yang ada di daerah tersebut. Memang itu adanya jalur yang terbaik. Juga biasanya jalur-jalur memotong itu lebih sulit adanya, lebih baik jalan sedikit melingkar tapi dapat menghemat tenaga daripada mengikuti lintasan memotong tapi terkuras tenaga.

Jadi, patut diulang lagi. Ucapan-ucapan yang mengatakan bahwa naik gunung itu susah adalah bohong belaka. Ternyata kita bisa menikmatinya, dan bahaya-bahaya yang timbul di sana sebenarnya bisa diminimalkan dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang kegiatan tersebut. Dan dengan menjadikan sebuah perjalanan menjadi sebuah seni adalah cara tersendiri dalam menikmati ciptaan-Nya.

KOMPETENSI PADA AKTIFITAS PETUALANGAN

Posted on October 8, 2008 by smandapalacirebon.
Categories: Pembelajaran.

Salah satu aspek non-teknis yang dapat menunjang seorang petualang dalam meningkatkan skill dan lebih menekankan pada safety adalah dengan menerapkan Sistem Kompetensi yang berfungsi sebagai alat ukur dan sebagai panduan individu dan organisasi.

KOMPETENSI PADA AKTIFITAS PETUALANGAN

Aktifitas petualangan sangat identik dengan resiko. Seseorang yang aktif atau ikut dalam kegiatan tersebut secara sadar mengetahui adanya resiko yang mengikutinya. Sayangnya pemahaman para petualang terhadap resiko kadang hanya sekedar pada tahap “mengetahui”, dan bukan tahap “menguasai” sehingga kurang dapat menghindari atau meminimalkan munculnya insiden/cidera yang muncul.

Untuk mencapai tahapan ‘menguasai’ memang tidak mudah, karena diperlukan kemampuan secara menyeluruh terhadap seluruh aspek yang ada didalam kegiatan petualang tersebut. Aspek-aspek yang harus dikuasai tidak hanya sekedar teknis, tetapi juga non-teknis. Salah satu aspek non-teknis yang dapat menunjang seorang petualang dalam meningkatkan skill dan lebih menekankan pada safety adalah dengan menerapkan Sistem kompetensi yang berfungsi sebagai alat ukur dan sebagai panduan individu dan organisasi.

PENGERTIAN KOMPETENSI

Pada era abad ke-21 ini hampir sebagian besar perusahaan di Indonesia sedang trend dengan Sistem kompetensi yang kesemuanya bermuara untuk dapat meningkatkan produktifitas kerja. Apa sih sebenarnya kompetensi, kok sedemikian populernya? Kenapa kok sekarang penulis mencoba mengkaitkan dengan dunia petualangan?

Pengertian kompetensi sangat beragam, sehingga penulis mencoba mendefinisikan yaitu Kompetensi diartikan sebagai karakteristik dari individu yang meliputi pengetahuan, keahlian, pengalaman, sikap, motivasi dan kepribadian yang akan mempengaruhi unjuk kerja (performance) seseorang.

Pada 3 aspek : pengetahuan, keahlian/skill dan pengalaman lebih mudah diukur, sedangkan 3 aspek: sikap, motivasi dan kepribadian akan sulit diukur, khususnya jika dikaitkan dengan aktifitas petualangan, sehingga pada penjabaran dan implementasinya akan lebih memfokuskan pada 3 aspek pertama tadi, yaitu pengetahuan, keahlian/skill dan pengalaman.

Unsur kompetensi pengalaman sangat terkait dalam kegiatan petualangan. Biasa orang menyebutnya dengan ‘jam terbang’, sehingga peran pengalaman akan mendapat porsi yang besar jika seorang petualangan sudah melewati level ‘beginner’. Misalnya sorang yang habis mengikuti pelatihan ‘River Rescue untuk Intermediate’ dan mendapat sertifikat, maka bukan berarti selamanya ia berada pada level tersebut. Hal ini bisa terjadi karena mungkin ia tidak pernah mengasah kemampuannya di lapangan nyata atau ’jam terbangnya’ rendah.

Kompetensi berhubungan dengan target yang hendak dicapai oleh individu/ organisasi, dan yang paling utama adalah segala hal yang ada dalam kompetensi harus terukur, contoh : seseorang dikatakan berkompeten jika ia sudah mencapai target yang sudah ditetapkan oleh organisasi. Untuk itu setiap organisasi/induk organisasi perlu menyusun kompetensi untuk setiap kegiatan yang ada didalam organisasinya, misalnya kompetensi arung jeram, panjat tebing, caving, gunung, rescue, ekspedisi, dan lain-lain.

Beberapa fungsi kompetensi antara lain sebagai :

  1. Panduan bagi ‘anak baru’ dalam usaha meningkatkan skillnya.
  2. Panduan bagi senior dalam mengontrol peningkatan skill yuniornya.
  3. Dasar analisa kebutuhan training dengan melihat ‘gap competency’
  4. Dasar penyusunan modul training yang lebih tajam.
  5. Dasar dalam mengelompokkan anggota sesuai dengan pengetahuan, skill, dan pengalaman.
  6. Alat ukur untuk penilaian skill dengan metode ‘competency assessment’.
  7. Alat ukur efektifitas organisasi dalam peningkatan kinerjanya.
  8. Alat kontrol organisasi agar anggotanya melakukan kegiatan sesuai dengan skillnya.
  9. Alat kontrol organisasi dan individu agar tidak terjadi insiden dan cidera.

Dari beberapa fungsi kompetensi diatas, penulis menilai bahwa fungsi yang paling utama adalah mengurangi, menghindari atau meminimalkan resiko yang ada (poin 9), karena pada akhirnya seorang petualang akan dapat lebih menikmati petualangannya jika semua yang dia lakukan terukur dan aman.

PENYUSUNAN KOMPETENSI

Menyusun kompetensi sebenarnya hampir sama dengan membuat pengelompokan dari berbagai hal yang terkait dengan kegiatan yang akan dibuat kompetensinya, sehinga ada kecenderungan hanya orang yang sudah paham tentang konsep kompetensi atau biasa juga orang yang sudah berpengalaman operasional yang dapat dengan mudah menyusunnya.

Langkah-langkah dalam menyusun kompetensi antara lain :

  1. Menentukan Kluster kompetensi/kompetensi utama. Kluster terdiri dari beberapa kompetensi
  2. Menyusun kompetensi yang merupakan penjabaran dari kluster kompetensi, biasanya berisi lebih dari 1 kompetensi.
  3. Menentukan indikator/indikator perilaku yang menunjukkan unjuk kerja (performance) pada setiap kompetensi. Tiap indikator sudah harus lebih detail dan jelas, sehingga akan mempermudah pada saat pengukurannya.
  4. Tahap berikutnya setelah 3 hal diatas adalah perlu memilahkan berdasarkan level skill, antara lain: beginner, intermediate, advance, dan expert.

Selama penyusunan kompetensi, individu atau organisasi berusaha agar dapat digunakan sebagai alat ukur yang memiliki ‘reliabilitas’ yang tinggi. Untuk itu diperlukan masukan dan saran dari orang/organisasi yang lebih berpengalaman pada kegiatan yang akan disusun kompetensinya. Setelah berhasil disusun secara sistematis, usahakan jangan kaku/tetap dilakukan pematangan secara kontinyu sampai didapat kompetensi yang lebih pas untuk organisasi.

PROSES ASSESSMENT

Proses penyusunan kompetensi yang membutuhkan banyak waktu sebenarnya baru merupakan langkah awal, atau kalau dalam suatu kegiatan baru merupakan pre-kegiatan, dan belum merupakan kegiatan sebenarnya.

Setelah kompetensi tersusun secara sistematis, organisasi harus mempersiapkan beberapa hal untuk proses assessment, antara lain :

  1. Melakukan sosialisasi tentang istilah kompetensi ke semua anggotanya agar terdapat pemahaman dan langkah yang terintegrasi antara organisasi dan anggotanya.
  2. Menyusun ‘competency assessment’ berupa uji kompetensi dengan materi berupa soal tertulis, wawancara (jika diperlukan) dan praktek di lapangan.
  3. Melatih calon ‘Assessor’ yang akan melakukan penilaian agar menguasai metode dan pelaksanaan assessment lebih valid. Pelatihan awal dapat diberikan oleh orang yang berkompeten dalam melatih assessor, tetapi jika sudah berjalan dapat dilakukan oleh organisasi tersebut.
  4. Pelaksanaan ‘competency assessment’ sesuai dengan level skill dan kompetensinya.

Dalam proses ini, organisasi harus melakukannya secara kontinyu dengan komitmen tinggi, misalnya dilakukan tiap 6 bulan sekali/1 tahun sekali. Hasil dari penilaian juga harus didata secara detail untuk setiap individu, sehingga akan mempermudah organisasi dalam melakukan proses pengembangan.

PELAKSANAAN PELATIHAN

Kompetensi yang sudah tersusun tadi dapat digunakan sebagai dasar dalam penyusunan modul training yang sesuai dengan kompetensi/kegiatan. Judul modul training dapat diambil dari tiap item kluster kompetensi dengan isi materi berupa kompetensi dengan indikatornya. Materi yang disusun harus disesuaikan dengan level skillnya, sehingga pada akhirnya akan ada modul training untuk level beginner, intermediate, dll.

Modul training yang tersusun nantinya akan di’matrix’kan dengan indicator pada tiap kompetensi, misalnya judul materi ‘Mendayung’ di matrix’kan dengan indicator mendayung stroke, dan seterusnya. Untuk itu langkah berikutnya adalah menyusun item-item pengembangan / training yang dibutuhkan untuk setiap indicator yang ada, misalnya berupa materi kelas dan praktek di lapangan.

Setelah Matrix selesai dibuat, langkah berikutnya adalah mencari ‘gap competency’ yang didapat dari hasil ‘competency assessment’ yang berupa kekurangan/‘belum bisa’ dari seseorang yang dinilai. Selanjutnya kekurangan tadi didata dan dimunculkan kebutuhan pengembangannya. Dalam dunia ‘training’ hal ini disebut deengan tahapan ‘Training Needs Analysis’ dengan tujuan mengetahui kebutuhan training / pengembangan setiap individu dalam suatu perusahaan.

Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan Sistem Pengembangan untuk setiap individu ataupun kelompok yang dilakukan sesuai kebutuhannya. Pelaksanaannya harus dijadual secara sistematis yan dilakukan secara kontinyu dan dapat dijadikan Sistem bulanan, triwulan, semester atau tahunan dari organisasi.

Berdasarkan uraian diatas, sangat terlihat jelas bahwa Sistem kompetensi memiliki manfaat yang luas bagi proses pembelajaran organisasi dan individu didalamnya. Masalahnya adalah sangat dibutuhkan komitmen yang tinggi dari organisasi dan anggotanya untuk menjalankan Sistem kompetensi.

Sistem ini akan lebih optimal jika organisasi dapat secara kontinyu menerapkan setiap proses/tahap yang ada didalam Sistem kompetensi, misalnya menyiapkan ‘assessor’, melakukan assessment, membuat matrix, dan melakukan pengembangan. Hal ini jelas tidak akan habis-habisnya, karena fenomena yang ada didalam organisasi ‘Pecinta Alam’ di dunia kemahasiswaan selalu memiliki angota baru pada tiap tahunnya, dan masa kepengurusan dan masa aktif di organisasi yang tidak lama. Untuk itu organisasi juga harus terus menjaga komitmen tersebut dari tahun ke tahun, dan dari satu kepengurusan ke kepengurusan periode berikutnya.

Untuk optimalisasi Sistem kompetensi, alangkah baiknya kalau dapat ditunjang dengan system komputerisasi berupa Program computer dengan isi program kompetensi yang akan mempermudah proses kontrol perkembangan skill anggota secara lebih spesifik.

Manfaat lain dari Sistem kompetensi bagi organisasi dan aktifis Organisasi Pecinta Alam yaitu pemahaman dan penguasaan lebih awal tentang kompetensi (sampai mampu melakukan assessment dan pengembangan) akan sangat berguna sebagai bekal pada saat ia memasuki dunia kerja nantinya, karena toh sebagain aktifis juga akan bekerja di suatu perusahaan yang sekarang ini sedang menuntut kemampuan dalam Sistem kompetensi.

Sebagai penutup, diharapankan Organisasi Pecinta Alam sudah ‘well run’ dengan Sistem kompetensi, maka proses peningkatan skill dan pengembangan organisasi dapat menjadi lebih sistematis, dan tentu saja ini merupakan langkah maju untuk menjadikan Organisasi Pecinta Alam sebagai organisasi pembelajar buat anggota yang aktif didalamnya.

AGUNG AGES FIRMANSYAH | NPA.SP: 08019 TIRTA JINGGA

PENCINTA ALAM DAN PENGUBAHAN CITRA

Posted on by smandapalacirebon.
Categories: Wacana Kami.

Pecinta alam sering diasosiasikan negatif oleh masyarakat pada umumnya. Hal ini terutama dikaitkan dengan perilaku individu maupun kelompok yang sering mengabaikan norma-norma sosial dalam pengekspresian pola pikir, ideologi maupun afeksifitas.

Setiap komunitas memiliki idealisme dan norma kelompok yang membedakan komunitas yang satu dengan komunitas yang lain. Tak terkecuali komunitas-komunitas kepencintalaman. Norma-norma dan idealisme ini merupakan hal yang prinsipal dan mendasar sehingga bila pada suatu titik norma-norma kelompok itu berbenturan dengan norma kolektif masyrakat, kompromi akan sulit dilakukan.

Pecinta Alam dan Pengubahan Citra

Pecinta alam sering diasosiasikan negatif oleh masyarakat pada umumnya. Hal ini terutama dikaitkan dengan perilaku individu maupun kelompok yang sering mengabaikan norma-norma sosial dalam pengekspresian pola pikir, ideologi maupun afeksifitas. Setiap komunitas memiliki idealisme dan norma kelompok yang membedakan komunitas yang satu dengan komunitas yang lain. Tak terkecuali komunitas-komunitas kepencintalaman. Norma-norma dan idealisme ini merupakan hal yang prinsipal dan mendasar sehingga bila pada suatu titik norma-norma kelompok itu berbenturan dengan norma kolektif masyrakat, kompromi akan sulit dilakukan.

Salah satu norma harus diabaikan dengan segala konsekuensi. Yang terjadi umumnya norma kolektif masyrakatlah yang terabaikan. Ini yang menjadi masalah, masyarakat menjustifikasi komunitas kepencintaalaman tidak bernorma dalam perilaku kesehariannya. Pada dasarnya norma itu tetap ada namun dengan proporsitas yang lebih pada kebebasan. Inilah yang menjadi titik tolak berkembangnya citra negatif pada komunitas kepencinta alaman.
Manusia secara kodrati memang tertarik pada kebebasan. Tak tanggung-tanggung filsuf sekaliber Nietzche misalnya, menjadikan kebebasan sebagai tujuan dari hidup manusia, yang dijelaskannya tak mungkin tercapai bila individu tak berusaha menjadi adimanusia.

Kebebasan sendiri membawa dilema. Manusia selalu merasa tidak puas pada keadaan dirinya, hingga ketika ia telah menggenggam kebebasan itu pada suatu titik ia akan merasa jengah akan kebebasan itu sendiri. Ketika kejengahan terjadi, manusia menjadi lebih dapat menghargai aturan. Ini mungkin dapat dijadikan pembelaan bagi pola perilaku yang dianut oleh komunitas kepencintalaman. Tapi masyarakat butuh sesuatu yang lebih kongkrit untuk mengubah prasangka negatifnya terhadap sebuah komunitas tak sesuai norma.

Mengapa persepsi negatif tersebut harus diubah? Karena dalam operasionalnya toh sebuah komunitas akan dibenturkan dengan komunitas yang lain di dalamnya akan ada sebuah hubungan resiprok, saling tergantung, saling membutuhkan. Komunitas itu juga berada dalam sebuah komunitas yang lebih besar lagi dengan ketergantungan yang lebih besar pula. Memang perlu kompromi agar pengubahan persepsi tersebut dapat terwujud. Tapi untuk mengakomodir hal tersebut, bukankah berarti harus pula mengubah ideologi, prinsip, dan singkatnya mengubah ‘wajah’ sebuah komunitas? Maka langkah yang lebih cerdik perlu dilakukan.

Menaikkan posisi tawar dengan menawarkan apa yang kita punya (dalam hal ini komunitas kepencinta alaman) bisa dijadikan alternatif pilihan. Ketika kita berhasil memberikan kontribusi positif pada komunitas yang lebih besar maka penghargaan bukan tidak mungkin dapat kita tuai. Penghargaan ini dapat berupa rasa percaya maupun persepsi positif terhadap komunitas kita. Masih berbicara tentang nilai tawar dalam ruang lingkup global tanpa sekat-sekat komunitas (dimana kita berdiri sendiri-sendiri sebagai individu). Sekedar nilai akademis saja tak akan cukup untuk ‘menjual diri’.

 Dunia yang semakin berkembang menuntut kita untuk memiliki ‘nilai tambah’ agar dapat ‘laku’ dalam pangsa kerja. Seperti apa nilai tambah itu? Nilai tambah ini dikemas dengan istilah soft skills. Soft skills tidak terefleksikan lewat angka-angka tetapi pola pikir dan perilaku. Pada dunia yang terus berkembang ke arah kapitalisme dan materialisme, soft skills inilah yang natinya akan laku keras. Soft skills meliputi skill-skill lainnya, seperrti learning skills, thinking skills, sampai leadership skills.

Learning skill merupakan ketrampilan yang dapat digunakan untuk selalu mengembangkan diri melalui proses belajar yang selalu berkelanjutan, sedang thinking skills merupakan suatu keterampilan yang berkaitan dengan pola pikir terutama dalam kaitannya dengan proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah dan living skills adalah keterampilan hidup yang terdiri dari tanggung jawab, daya juang, keterampilan membangun dan memelihara hubungan sosial, kematangan emosi serta kemampuan mengelola diri.

Lantas apa kaitannya soft skills dengan komunitas pecinta alam dan reputasi negatif yang terlabel padanya? Komunitas pecinta alam dengan segala aktivitasnya mampu secara autodidak (tanpa training-training yang menghabiskan biaya itu) mengembangkan skill-skill yang memang harus dikembangkan dalam rangka pencapaian soft skills. Coba tengok Leadership Skills, leadership skills meliputi visi, pemahaman, common sense, kemantapan pengambilan keputusan, pemilikan keyakinan, semangat, motivasi serta kerjasama. Aplikasi dari keseluruhan aspek tersebut terepresentasikan lewat kegiatan-kegiatan operasional yang secara kontinyu dilakukan oleh komunitas kepencintaalaman.

Dalam kegiatan-kegiatan tersebut untuk dapat survive langsung maupun tak langsung kemampuan-kemampuan tersebut akan terasah dengan sendirinya. Pada dasarnya manusia memiliki kemampuan dasar untuk mengembangkan skill-skill tersebut di atas, tapi pengkondisian jelas merupakan faktor yang tak dapat diabaikan. Komunitas kepencintalaman memiliki intensitas yang lebih tinggi untuk tenggelam dalam situasi yang mengkondisikan terasahnya skil-skill tersebut.

Jika kita berbicara tentang suatu komunitas atau kelompok, maka tidak bisa dilepaskan dari ulasan tentang dinamika kelompok, proses manajerialnya, serta peran faktor kepemimpinan dalam memanage suatu kegiatan kelompok. Sebagai sebuah organisasi, kelompok pecinta alam terdiri atas dua individu atau lebih yang bersama-sama dalam suatu hubungan psikis tertentu, dimana kondisi individu mempunyai arti bagi individu yang lain, dan mereka saling pengaruh-mempengaruhi antara pribadi satu dengan yang lain (Kartono,1995). Dari ‘kesalingan’ tersebut akan terjalin hubungan aksi-reaksi yang menjadi indikasi adanya suatu dinamika dalam suatu koelompok tersebut.

Misalnya, dalam sebuah ekspedisi (pendakian, pengarungan, pemanjatan, dsb), dalam sebuah perencanaan, harus termaktub manajemen waktu, perjalanan, peralatan, dan opsi-opsi yang harus diperhatikan serta diputuskan bila bahaya menghadang. Kita dilatih untuk bisa disiplin dalam segala hal tersebut diatas. Kontrol emosipun dibutuhkan dalam berkegiatan ini. Bayangkan bila kita harus bekerja bersama dengan bermacam-macam tipe kepribadian dan dalam keadaan yang selalu berubah. Mau tidak mau kita dituntut untuk belajar mengerti keadaan orang lain, belajar menghargai satu sama lain, dimana akan menuju satu hal, yaitu bekerja sebagai sebuah tim.

Bayangkanlah hal ini dalam skala yang lebih besar, yaitu dalam dunia kerja, maka kita sebagai penggiat kepecintaalaman setidaknya sudah memiliki gambaran tentang kondisi dunia kerja yang kurang lebih sudah didapat dari pengembangan dan pembelajaran dalam komunitas kepecintaalaman. Ini merupakan nilai tambah yang otomatis didapat dan memiliki nilai tawar di komnunitas mesyarakat. Tapi hal tersebut tidak lantas mengubah perspsi dan pandangan masyarakat terhadap komunitas kepecintaalaman. Disinilah letak dilemanya.

Disatu sisi hal ini memiliki nilai tambah yang positif tapi tetap tidak dapat langsung mengubah persepsi masyarakat terhadap komunitas kepecintaalaman. Usaha tersebut tentu saja memerlukam perjuangan keras dan usaha yang tak henti-henti sampai di satu titik dimana tercapai kesesuaian antara nilai-nilai yang dianut oleh komunitas kepecintaalaman dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, tentu saja setelah adanya kesesuaian persepsi diantara keduanya.

AGUNG AGES FIRMANSYAH | NPA. SP: 08019 TIRTA JINGGA

RENUNGAN CINTA UNTUK PENCINTA ALAM

Posted on May 16, 2008 by smandapalacirebon.
Categories: Wacana Kami.

Cinta…

Apa iya harus didefinisikan? Kadang-kadang kita sering terjebak pada persoalan redaksi, tapi hal yang lebih penting justru diabaikan. Sama halnya ketika kita diminta untuk mendefinisikan cinta agar kita paham dan tau, padahal kita keliru karena itu adalah masalah perasaan dan benar-benar komitmen dari hati yang akan lebih jelas maknanya saat hal tersebut dirasakan dan diaplikasikan ketimbang harus menjelaskan dengan sejuta kata-kata yang pada akhirnya hanya simbol belaka.

Sama halnya ketika kita adalah seorang pencinta alam, sebenarnya tindakan apa yang sudah kita lakukan terhadap alam ini sehingga dengan bangganya kita menyebut diri pencinta alam yang pada faktanya kita lebih banyak mengeksploitasi dan mengabaikan pelestariannya, kita lebih sering menikmatinya saja lalu masa bodoh ketika ada yang merusaknya, atau bahkan tanpa sadar kita juga telah sering melukai dan menyakitinya ketimbang berpikir atau melakukan sesuatu untuk menjaganya.

Hal yang lebih buruk lagi ketika terjadi bencana alam, kita dengan tanpa merasa bersalah, turut merasa prihatin atas apa yang terjadi dan hanya sebatas itu, bukannya meneyesali kenapa kita tidak mencegahnya agar tidak terjadi. Lalu bukti cinta kepada alam itu mana jika kenyataannya seperti itu…harusnya!

Kita malu ketika kita menyandang nama sebagus itu tapi tindakan kita justru jauh dari nama itu. Apalagi kalo ada celetukan yang terdengar simple sebenarnya tapi cukuplah membuat tersinggung kalo memang masih punya perasaan, “gimana mo ngurus alam atau peduli sama alam, sama diri sendiri aja gak becus…” (ironis banget kan…) jika memang sudah seperti ini keadaannya, yang jadi pertanyaan kemudian adalah apa sebenarnya motivasi kita menyebut diri pencinta alam atau tergabung pada kominitas-komunitas pencinta alam seperti KPA, MAPALA, SISPALA dan sejenisnya.

Apa hanya karena hal itu populis jadi pengen ikut-ikutan populer atau buat gaya-gayaan aja… buat sekedar “label” aja. sangat memprihatinkan… wajar kemudian jika banyak yang memandang sebelah mata terhadap keberadaan pencinta alam, karena memang  tindakan-tindakan konkritnya sebagaian besar sudah melenceng dari yang seharusnya.

Beberapa waktu lalu aku diberi sebuah biji kalpataru sebagai kenang-kenangan, dan seorang kawan menjelaskan tentang makna tiga ruas yang selalu ada pada setiap biji kalpataru, “itu merupakan simbol tentang Tiga Hal, yaitu: Hubungan manusia dengan Sang Pencipta, Hubungan manusia dengan Sesamanya dan Hubungan manusia dengan Alam” jelasnya padaku saat itu.

Menurutku Tiga hal tersebut yang sangat penting harus dimiliki pencinta alam, ketika benar-benar dirinya memliki tanggung jawab moral atas nama yang disandangnya dan mau memberikan bukti nyata atas rasa cintanya terhadap alam ini, sehingga cinta tidak lagi hanya sebatas definisi kata-kata ataupun redaksi untuk dipahami tapi juga aktualisasi  dalam setiap tindakan yang dilakukan sebagai bukti nyata dan bukan sekedar “label”.

Semoga…

AGUNG AGES FIRMANSYAH | NPA.SP 08019 TIRTA JINGGA

TENTANG PENCINTA ALAM: HARI INI, KEMARIN DAN ESOK…

Posted on by smandapalacirebon.
Categories: Wacana Kami.

“Not Having but being, Simple in mean but rich in end and values, High quality of life, Yes! High standard living maybe yes maybe no.”

Tentang PA, kemarin…
 
Permasalahan lingkungan bukan semata-mata persoalan moral namun juga krisis moral secara global. Menurut Arne Naess, krisis lingkungan yang terjadi hanya bisa diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam yang fundamental dan radikal. Dibutuhkan sebuah pola hidup atau gaya baru yang tidak hanya menyangkut orang per orang, tetapi juga budaya masyarakat secara keseluruhan. Artinya, dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntun manusia berinteraksi dengan lingkungan hidup saat ini.

Cara pandang sangat menentukan gerak langkah manusia terhadap kegiatannya, termasuk dalam memperlakukan alam ini. Dua cara pandang yang dominan diantaranya adalah antroposentrisme dan ekosentrisme, keduanya mempunyai alasan masing-masing dari beberapa tokohnya.

Antroposentrisme adalah teori etika lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Cara pandang ini menyebabkan manusia mengekploitasi dan menguras alam semesta demi memenuhi kebutuhan kepentingan manusia. Selain itu, cara pandang ini pun melahirkan sikap yang rakus dan tamak yang menyebabkan manusia mengambil semua kebutuhan hidupnya dari alam tanpa memperhitungkan kelestariannya. Alam dipandang hanya demi kepentingan manusia, sehingga sebagian pihak mengatakan krisis lingkungan dianggap terjadi karena perilaku manusia yang dipengaruhi oleh cara pandang antroposentris ini.

Imanuel Kant, salah seorang penganut teori ini, mengatakan, hanya manusia yang merupakan makhluk rasional, diperbolehkan secara moral menggunakan makhluk non rasional lainnya untuk mencapai suatu tatanan dunia yang rasional.

Cara pandang kedua yaitu ekosentrisme yang merupakan kelanjutan teori biosentrisme (teori yang menganggap bahwa setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga pada dirinya sendiri sehingga teori ini menganggap serius setiap kehidupan dan makhluk hidup di alam semesta). Bahkan sering disamakan begitu saja karena ada kesamaan di antara keduanya. Kedua cara pandang ini mendobrak cara pandang antroposentris. 

Selanjutnya, ekosentrisme diperluas untuk mencakup komunitas ekologis seluruhnya. Sekarang populer dengan nama Deep Ecology yang pertama kali dikenalkan oleh Arne Naess, Filsuf Norwegia, pada 1973. Naess kemudian dikenal sebagai tokoh deep ecology sampai sekarang.

Manusia adalah tertuduh dari ambruknya kualitas bumi, ia dinilai terlampau asyik memuaskan syahwatnya tanpa mempedulikan akibat pada bumi. Mental dan nalar antroposentris dinilai sebagai muasal. Antroposentrisme yang merusak justru ditahbiskan kesucian epistemologinya oleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan modern adalah kabar buruk dari ideologi patriarkal barat (Vandana Siva,seorang tokoh ekofeminis india).

Hal inilah yang kemudian menimbulkan dorongan bagi sebagian orang untuk mengabdikan dirinya bagi kelestarian alam dengan melakukan berbagai upaya untuk dan menyandang nama sebagai Pencinta Alam.

Tentang PA, hari ini…

Kode Etik Pencinta Alam:

Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan YME

Pencinta Alam Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab terhadap Tuhan

Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa Pencinta Alam adalah sebagai mahluk yang mencintai Alam sebagai anugerah Tuhan YME

Hampir di setiap kesempatan, event apapun yang dilakukan oleh yang menamakan dirinya pencinta alam, kode etik itu selalu dibacakan dan diperdengarkan pada semua orang…yang menjadi pertanyaan kemudian apakah hal tersebut terwujud dalam tingkah laku orang yang membanggakan dirinya dengan menamakan diri Pencinta Alam?

Sering dalam melakukan kegiatan di alam bebas yang banyak pencinta alam cenderung hedonis alias hura-hura. Berapa persen, sih, dari total “jam terbang” Pencinta Alam yang benar-benar didedikasikan untuk upaya pelestarian lingkungan hidup? Mungkin prosentasenya jauh lebih kecil dibandingkan waktu yang kita habiskan sebagai penikmat alam.

Benar jika kemudian berkembang stigma, bahwa pecinta alam saat ini sudah jauh melenceng dari makna sebenarnya. Mereka yang menamakan klub pecinta alam justru tidak mengerti apa makna pecinta alam itu yang sebenarnya. Sekarang klub pecinta alam tumbuh bagaikan jamur di waktu hujan. Namun sayangnya pecinta alam sekarang ini lebih mengutamakan pada petualangan dan penaklukan alam. Bukan untuk melestarikan alam. Sehingga disadari atau pun tidak kita ikut ambil bagian dari kerusakan alam ini. Harusnya klub pecinta alam menjadi ujung tombak dalam menjaga kelestarian alam ini bukan sebaliknya. Banyak sudah orang-orang yang mampu menggapai atap-atap dunia, tapi hanya segelintir aja yang benar-benar peduli dengan alam ini.

Dalam tataran realita, tidak sedikit pencinta alam yang mempunyai arah dan gerakannya tidak mencerminkan diri sebagai pencinta alam. Contohnya kita bisa melihat bagaimana kasus vandalisme yang terjadi di puncak gunung. Siapa lagi kalau bukan orang yang sering naik gunung dan ini sudah menjadi persepsi yang kuat dalam masyarakat mengenai berubahnya paradigma pecinta alam. Berubahnya paradigma pencinta alam telah menyebabkan sulit untuk membedakan antara pecinta alam dan atau pegiat alam terbuka. Keduanya menyatu dalam satu diri namun sisi pencinta alamnya kadang menjadi buyar.

Pencinta alam lebih populer dengan gerakan enviromentalismenya sedangkan penggiat alam terbuka lebih lekat dengan aktivitas-aktivitas petualangan (adventure) seperti pendakian gunung, pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang mejadikan alam sebagai medianya.

Tentang PA, Esok :PA itu adalah…

PA merupakan singkatan dari Pecinta Alam bukan Pemerkosa Alam atau sekedar Penikmat Alam ataupun juga Pegiat Alam. PA sejati adalah dimana ia bisa menyatukan dirinya dengan alam, membaurkan diri dengan alam, melestarikan, menjaga dan mempergunakan alam itu sebagai tempat dimana manusia hidup, akan tetapi bukan bertujuan untuk merusak. PA itu juga bukan ajang untuk menaklukan organisasi lain dalam arti hanya untuk
ngeceng saja.

Akan tetapi PA itu adalah bagaimana cara kita (sadar) akan keberadaan alam. PA tidak hanya memperkenalkan / mengenal alam itu sendiri, akan tetapi juga meminta kita agar bagaimana alam ini tidak dirusak tetapi dilestarikan.

Seorang pecinta alam harus bisa hidup selaras dengan alam dan berusaha agar alam tersebut tetap lestari. Seorang pecinta alam seharusnya melindungi dan melestarikan edelweis bukan memetik edelweis hanya untuk suatu kebanggaan yang tak berarti. untuk membuat kita bangga telah jelajah gunung atau hutan kita seharusnya tidak merusak alam, cukup dengan foto itu sudah lebih dari cukup” komentar salah seorang anggota Mapala. 

Karena itu sebenarnya pencinta alam harus mengetahui segala kaidah lingkungan sebagai bagian dari gerak dan pola acuan tindakannya. Kalau dilihat dari nama sebagai Pencinta Alam yang sebenarnya dalam korelasi positif banyak yang mencintai alam maka alam akan semakin lestari.

Tapi dalam realitanya, banyak perhimpunan belum kelihatan kontribusi nyata untuk lingkungan hidup. Lihatlah, bagaimana kasus kawasan konservasi yang semakin hari semakin menyusut atau kawasan hutan kota yang hampir habis tetapi pencinta alam belum ada yang turun menyuarakan/mengeluhkan hal tersebut.

Degradasi kultura dalam tubuh pencinta alam memang bukan tanpa alasan. Semasa orde baru, arah pencinta alam diarahkan untuk tidak mengikuti pola
gerak dari green peace atau the german green yang berani mengkritisi setiap kebijakan pemerintah. Di lain pihak keberadaan pencinta alam adalah sebuah awal gerakan lingkungan di mana lingkungan sebagai wahana kehidupan berada pada keseimbangan yang lestari dalam dimensi politik, ekonomi,sosial dan budaya. Jika salah satu/beberapa ditambah porsi kepentingannya, maka akan mengganggu yang lain dan biasanya yang menjadi korban adalah alam lingkungan hidup.

Ciri lain dari pecinta alam (PA) adalah perubahan. Karena itu, dalam gerakan lingkungan hidup, PA selalu menginginkan/memperjuangkan adanya perubahan (semakin baik) dalam politik, sosial, ekonomi dan budaya dengan lingkungan hidup sebagai tema sentral.

 “Bumi ini Cukup untuk semua orang tapi tidak Untuk Dua Orang Yang Serakah”

(Mahatma Gandhi).

AGUNG AGES FIRMANSYAH | NPA.SP 08019 TIRTA JINGGA

THE MAKING OF EVEREST V

Posted on August 28, 2007 by smandapalacirebon.
Categories: Mount Everest.

Kemauan untuk Sukses
Kembali ke gunung adalah sesungguhnya keputusan pribadi dari masing-masing anggota tim. Viesturs tidak menginginkan perasaan duka terus bergayut di gunung. Ia ingin mengingatkan pada dirinya sendiri dan orang lain bahwa mendaki Everest bisa dilakukan dengan aman. Segarra, yang telah memberikan waktu dan usaha penuh bagi ekspedisi memutuskan untuk mencoba mendaki puncak. Schauer sependapat, “Aku tidak pernah memikirkan akan kembali ke atas sana. Kita punya pekerjaan yang harus diselesaikan dan aku merasakan cuaca belum juga datang.” “Gunung adalah sebuah tempat menyimpan kecantikan,” Breshears menyimpulkan,” Walaupun segala usaha, tragedi dan kegagalan, kita tidak akan kembali mendaki gunung jika tidak untuk menikmati keindahannya.”

Dibutuhkan waktu dua hari bagi para sherpa untuk menambah stok botol oksigen di South Col. Pada tanggal 17 Mei anggot tim Film Everest meninggalkan Base Camp sebagai sebuah upaya akhir untuk memasang peralatan sains di High Camp. Dan jika cuaca mengijinkan mereka akan mencoba keberuntungan mendaki hingga puncak. pada 20 Mei, anggota tim menerima kabar menggembirakan bahwa gelombang jet bergerak menuju utara, menandakan awal periode tenang, atau udara cerah. Breashears menggambarkan rencana pendakian:

“Pada pagi dini hari pada 23 Mei –sesaat setelah melewati tengah malam pada tanggal 22- kami meninggalkan High Camp menuju keatas. Empat sherpa akan membawa kamera, dua sherpa membawa botol oksigen untuk anggota tim dan dua botol untuk tambahan di Southeast Ridge untuk para pendaki yang kembali. Tidak ada sherpa yang membawa barang lebih dari 35pounds (19 kg).”

Rencana tim adalah berada di puncak pada pukul 10 atau 11 siang dan kembali ke High Camp akan memberikan waktu beberapa jam sebelum malam. Tsuzuki yang berusaha menyembuhkan diri dari retak tulang iganya diminta untuk tetap berada di High Camp sebagai tenaga komunikasi dan penyelamatan.

Pada malam tanggal 22, Schauer nampak sedang sibuk menyiapkan diri. Di dalam tenda untuk tiga orang, penuh dengan alat memasak dan peralatan film, ia memasang empat film dan memeriksa lensa kamera. Dengan masker oksigen yang dikenakannnya maka pekerjaan seperti ini nampak kesulitan. Ketika ia melepas masker, ia hanya mampu bekerja dalam waktu 15 menit sebelum reaksi otot dan pergerakannya menjadi makin lambat.

Visteurs meninggalkan tim satu jam lebih awal yaitu sekitar 10malam. Perjalananan dalam salju sedalam lutut dan mendaki tanpa bantuan oksigen, ia berharap anggota tim lain akan segera menyusulnya. Walaupun jarak antar South Col dengan puncak hanya sekitar 1.5 mile, namun para pendaki harus melampui tanjakan dengan kecepatan 12kaki setiap menitnya. Para anggota tim melewati tubuh Hall dan Fischer.

“Menyaksikan mayat Rob Hall adalah hal terberat dalam proses pendakian,”
”Dia berada di tempat dimana kita memerlukan konsentrasi–bukannya tempat dimana kita membuat kesalahan.”

Sekitar pukul 10:55 pagi Viesteurs menyampaikan kabar ke Base Camp melalui radio, sembari memberi tahu bahwa ia dan Breashears terus berusaja semampunya.

“Dari tempat kami berdiri, nampaknya semua menuju kebawah.”

Jangbu Sherpa dan Lhakpa Dorje segera bergabung dengan mereka. Ed tidak mampu menunggu lebih lama lagi. Tanpa bantuan oksigen, tubuhnya menjadi dingin sehingga ia harus segera turun. Pada pukul 11:35, Jamling, Araceli, Robert dan Sherpa Lhakpa Dorje, Thilen, Dorje dan Lhakpa Moktu mencapai puncak. Anggota tim film Everest membuat sejarah di dunia sinema dengan berada di puncak Mount Everest dengan kamera IMAX. Selama ini adalah kamera terbesar yang pernah mengambil gambar di tempat palng tinggi di dunia. Sambil menggambarkan saat-saat terpenting dalam perjalanan karirnya, Breashears mengganti film dengan mengisi magazine lagi tanpa memperhitungkan kemungkinan frostbite dengan tangan telanjang. Schauer yang pernah mendaki Mount Everest 18 tahun lalu menggambarkan

”Ketika aku mendengar suara kamera beroperasi dengan mulus, aku jadi lega. Ini adalah alasan kenapa kami berada di Mount Everest.”

Untuk keseluruhan, anggota tim mengambil gambar lebih dari tiga menit di puncak dan tebing. Sebuah pencapaian luar biasa. Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan yang dialami oleh Jamling Tenzing Norgay:

“Disinilah tempat dimana ayahku berdiri 43 tahun yang lalu. Aku menangis bahagia sembari melihat sekeliling dan menelangkupkan tanganku sembari berucap terima kasih kepada Chomolungma.”

Bagi Breashears, hari bahagia tidak akan lengkap jika semua anggota tim belum kembali ke High Camp.

“Sebagai pemimpin dan sutradara, aku berada di puncak dalam situasi siaga karena kami tahu dengan pasti orang-orang yang berada disini kurang dari dua minggu lalu tidak mampu turun ke bawah dengan selamat.”

Para anggota tim film berhasil mencapai puncak dan juga berhasil memasang stasiun pengamat dengan pengukuran GPS untuk Bilham dalam ketinggian 26,000kaki. Para ahli geologi yang menjadi penasehat tim bahkan meyakinkan tim untuk membawa pulang contoh batuan yang berasal dari ketinggian tersebut.

Setelah kembali ke High Camp, Segarra menulis dalam jurnal ,”Aku kembali dan memandang ke atas gunung. Ia berdiri dengan cantik dan gagah, sebuah aura kebaikan mengelilingi gunung itu, atau mungkin rasa kedamaian yang menyelimutinya dengan kulit saljunya.”

Davidbreashearseverest2_1

Further reading :

Everest : Mountain Without Mercy by Broughton Coburn and Tim Cahill

Touching My Father’s Soul : In The Footsteps of Tenzing Norgay by JamlingTenzing Norgay and Broughton Coburn

The Climb : Tragic Ambition on Everest by Anatoli Boukreev and G Weston DeWalt

Into Thin Air : Personal Account of the Everest Disaster by Jon Krakauer

AGUNG AGES FIRMANSYAH | NPA.SP 08019 TIRTA JINGGA

THE MAKING OF EVEREST IV

Posted on by smandapalacirebon.
Categories: Mount Everest.

Badai Mematikan

Tim Film Everest menurut rencana akan mencoba mendaki pada 9 Mei sambil menunggu di Camp II (21,300 kaki). Panjangnya jejak para pendaki menuju puncak hari itu 10 Mei akan menciptakan kemacetan yang sempat dikhawatirkan oleh Breashears dan Viesturs. ”Turun dari tebing atas Everest adalah salah satu yang paling berbahaya dari pendakian itu sendiri. Kita harus mampu melewati para pendaki itu dalam perjalanan turun dari puncak. Kita harus melepas carabiners dari fixed-line dan memasangnya kembali. Ini berlangsung berturut-turut diantara orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan mountaineering. Mungkin saja para pendaki itu menginjak tali dan memotong tali secara tidak sengaja dengan crampon-nya. Atau menjatuhkan es dan bebatuan.”

Keputusan tim untuk menunggu terbukti adalah keputusan yang bijaksana. Pada 10 Mei, 23 pendaki dari tiga tim ekspedisi merayakan keberhasilannya di puncak. Namun begitu mereka turun, keberhasilan itu menjadi malapetaka ketika badai dasyat menerjang mereka. Hilang dalam kegelapan di “death zone” mencari jalan kembali menuju Camp IV di South Col, delapan orang hilang ditelan badai. Dua orang diantaranya adalah kawan Viesturs’s dan Breashers yakni Rob Hall dan Scott Fischer.

Makalu Gau dari Taiwan dan seorang Amerika Dr. Seaborn “Beck” Weathers mengalami frost bite yang sangat parah dan memerlukan pertolongan dari Camp IV. Sebuah tim ekspedisi untuk penyelamatan dibentuk di Camp II dan III. Viesturs dan Schauer mendaki hingga 25,000 kaki tempat dimana mereka harus menuntun Weathers turun selangkah demi selangkah. Viesturs memeganginya agar tidak jatuh sedangkan Schauer membantu menempatkan kaki Weathers di permukaan es. Para sherpa yang membantu Gau melakukan hal yang sama. Di Camp III, Breashears bergabung, menuntun Weathers turun dalam tebing sedalam 2,500kaki. Walaupun tim Film Everest membawa peralatan video, namun mereka memilih berkonsentrasi pada tindakan penyelamatan.

Ketika tim Everest Film mencapai Camp I dengan Gau dan Weathers, mereka menghadapi masalah besar : Khumbu Icefalls yang mematikan, sebuah bentukan blok es sebesar gedung bertingkat yang dapat terangkat tanpa ada peringatan lebih dulu. Banyak orang yang meninggal di Icefall, jatuh ke dalam crevasses yang dalam dan terperangkap oleh glasier yang bergerak menghimpitnya. Untuk membawa Weathers dan Gau hingga Base Camp, Viesteurs merenung, “Ini akan memerlukan upaya sehari semalam dan menempatkan banyak orang dalam resiko.” Ternyata doa itu terkabulkan ketika sebuah helicopter terbang dari Kathmandu menuju Camp I yang kemudian tercatat sebagai upaya penyelamatan dengan helicopter tertinggi dalam sejarah.

Para anggota tim Film Everest kembali ke Base Camp dalam kondisi capai dan shock. Judson yang baru saja kembali dari California membagikan cerita tentang kondisi tim, “Tragedi ini meninggalkan para pendaki dalam kondisi kecapaian baik fisik dan emosional. Mereka berduka; suplai oksigen yang ada di atas camp telah digunakan untuk tim penyelamat. Tidak ada yang akan menyalahkan jika mereka memilih jalan selamat. Namun kemudian mereka menemukan kekuatan baru, bergabung dengan tim kembali dan menuju puncak gunung. Sungguh ini butuh perjuangan.”

THE MAKING OF EVEREST III

Posted on by smandapalacirebon.
Categories: Mount Everest.

Yakiti Yak

Trekking sepanjang jalan menanjak dan sempit di Himalaya pada bulan Maret 1996, Judson mengaku: “Jangan sampai berdiri diantara seekor yak dan tebing curam!”. Sebagai seorang co-writer/sutradara/produser Everest, Judson menceritakan tentang jalanan berbatu itu dengan Breashears, asisten kamera Brad Ohlund dari MFF dan Robert Schauer dari Austria bersama dengan tim pendaki yang terdiri dari 4 negara, para sherpa, dua ilmuwan penasehat, dua staf di basecamp dan sekitar sembilan puluh ekor binatang berbulu tebal bernama yak. Judson dan Ohlund membantu Breashears dan Schauer dengan pengalamannya di bidang sinematografi di film format besar sepanjang rute hingga Base Camp. Selebihnya para pendakilah yang akan melanjutkan tugas ini.

Lebih dari tiga ton barang berisi peralatan -250 beban muatan makanan, film dan alat-alat climbing- dibawa dengan menggunakan yak dan porter dari Lukla (9,000kaki). Perjalanan ini memakan waktu dua minggu karena curamnya medan dan perlunya mendaki dengan perlahan untuk menyesuaikan diri dengan sedikitnya oksigen dalam ketinggian. Ketika mereka tiba di Base Camp pada 3 April, ahli geofisika dan ilmuwan penasehat tim Roger Bilham mengatakan,”Ketika duduk, kamu merasa normal…namun ketika beranjak …kamu bahkan tidak bisa membuat kalimat, hanya mungkin terdiri dari empat kata atau kurang …karena kamu sulit sekali bernafas.”

Sepuluh tim ekspedisi lain mulai berdatangan di Everest Base Camp yang kemudian merubah tempat ini seperti sebuah kota kecil berpenghuni 300 orang. Tenda-tenda bertebaran dalam jarak satu mil diantara bebatuan yang tertutup salju dan es. Kondisi ini dirasa tidak biasa karena besarnya jumlah peserta dan para pendaki yang ingin menuju puncak Everest. Dua dari para pemimpin ekspedisi adalah seorang dari New Zealand bernama Rob Hall dan seorang Amerika bernama Scott Fischer adalah kawan baik Breashears dan Wakil pemimpin tim ekspedisi film Everest, Ed Viesturs.

Dalam sebulan selanjutnya, para pendaki mulai membawa makanan, peralatan dan oksigen menuju empat camp yang lebih tinggi. Ini dilakukan untuk menyesuaikan tubuh mereka dalam kondisi sedikit oksigen dan juga memperkuat ikatan kebersamaan, saling percaya antara anggota tim dan juga membangun kepercayaan diri. Jamling Tenzing Norgay, anak laki-laki dari Tenzing Norgay adalah pemimpin tim pendaki untuk tim Ekspedisi Film Everest. Ia berharap dengan mendaki gunung Everest sebagai bentuk penghormatan atas legenda ayahnya sebagai orang pertama yang mendaki gunung itu bersama Sir Edmund Hillary di tahun 1953. Araceli Segarra, pendaki muda yang antusias ini berharap menjadi wanita pertama dari Spanyol yang akan mampu menaklukan puncak Everest. Sumiyo Tsuzuki dari Jepang berharap akan menjadi wanita kedua dalam sejarah negaranya dalam pendakian Everest.

Sementara itu David dan Robert mencoba berbagai kesempatan untuk membuat film kapanpun mereka bisa. “Membuat film tentang Everest itu lebih berat daripada mendaki Everest,” begitu kesimpulan Breashears. “Pekerjaan tidak akan pernah selesai ; dari meeting di malam hari membicarakan rencana shooting, memasang film, membersihkan kamera, memperbaiki kamera, menulis daftar shooting, merekam dan mempersiapkan dialog. Selama waktu itu, dituntut untuk mencari shots yang bagus secara terus menerus, mencoba membuat keputusan yang tepat : apakah aman untuk berhenti disini? Apakah cukup pencahayaan? Apakah perintah saya membuat para anggota tim turun semangat? Dengan berhenti mengambil shot ini apakah kita kehilangan cahaya, atau resiko bisakah mencapai camp ? Sejak awal kami telah sadar bahwa jika ini berhasil, ini akan menjadi salah satu pencapaian tersendiri bagi pembuatan film di Himalaya.”

AGUNG AGES FIRMANSYAH | NPA.SP 08019 TIRTA JINGGA

THE MAKING OF EVEREST II

Posted on July 11, 2007 by smandapalacirebon.
Categories: Mount Everest.

Sebuah Gunung Impian

Ketika Greg MacGillivray produser 18 film format raksasa mendatangi Breashears tentang rencana membawa kamera IMAX menuju Mount. Everest, Breashears langsung menyatakan bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin. Dengan berat 80 pounds (sekitar 40kg), kamera tidak bisa dibawa ke ketinggian dimana setiap ons berat dianggap sebagai satu kesempatan untuk bertahan hidup. Breashears mencoba meyakinkan MacGillivray bahwa untuk mengambil gambar dengan 35mm adalah format yang dianggap biasa.

Mac Gillivray tidak menyerah:Aspek rasio vertical dari format IMAX adalah sempurna untuk Everest. Ini harus dilakukan dengan format raksasa. Kita pasti bisa melakukannya.”

Dalam beberapa bulan di tahun 1994-1995, Breashears dan MacGillivray bekerja dengan teknisi IMAX Kevin Kowalchuk, Gord Harris dan anggota tim teknis untuk membuat sebuah kamera yang lebih kecil yang mampu bertahan dalam ektrem temperature dan kondisi di Himalaya.

Bagian logam dari kamera IMAX diganti dengan bahan plastic dan sabuk sintetis untuk memberikan fleksibilitas yang tinggi dalam temperature yang sangat dingin. Kamera baru tsb dengan berat 35 pound (hampir 18kg) bekerja dengan baterai sel lithium yang bisa tetap beroperasi dalam suhu dibawah beku. Tombol-tombolnya dibuat lebih besar sehingga tangan dengan kaos pelindung bisa mengoperasikan dengan mudah. Sebuah monopod digunakan untuk mengganti tripod yang berat.

Breashears memimpin sebuah ekspedisi untuk melakukan test kamera dengan menjelajahi Himalaya dan Basecamp hingga ketinggian 17,400 kaki pada musim semi tahun 1995. Ia kembali dengan hasil mengesankan; bahwa kamera bekerja tanpa ada hambatan berarti. Breashears dan MacGivillvray Freeman Film memulai perencanaan untuk ekspedisi film Mount Everest pada musim semi 1996.

Ketika Breashears mulai mengumpulkan anggota tim pendaki dan mengatur logistik untuk ekspedisi, MacGillivray Freeman Films (MFF) mempekerjakan co-writer Tim Cahill untuk bekerja dengn Steve Judson dalam pembuatan skrip film, MFF juga membawa para ilmuwan sebagai penasehat terdiri dari : ahli geologi, psikolog high-altitude, ahli di bidang budaya para sherpa dan sejarah mountaineering di Everest. Sebagai tambahan yakni tim yang akan membantu menghimpun data geologi Himalaya.

Dengan menggunakan teknologi GPS (Global Positioning System), para ilmuwan akan mempelajari setiap pergerakan tektonik yang membentuk gunung tertinggi di dunia itu.

Jajaran Himalaya terbentuk dari keping benua India mendesak masuk ke dalam keping Asia, sehingga puncak-puncak gunung di Himalaya terus bertambah tinggi ¼ inc setiap tahunnya. Para pendaki tersebut akan membantu para ilmuwan untuk memahami proses tersebut dengan membawa pengukuran GPS hingga ke Everest.

AGUNG AGES FIRMANSYAH | NPA.SP 08019 TIRTA JINGGA

THE MAKING OF EVEREST I

Posted on by smandapalacirebon.
Categories: Mount Everest.

Ide cemerlang yang gila

“Mendaki diatas ketinggian 26,000 kaki walaupun dengan menggunakan botol oksigen adalah seperti berlari di treadmill dan bernafas dengan sebatang sedotan. Tubuh menjerit menuntut untuk balik kanan” - Pimpinan Tim Ekspedisi Film Everest

Inilah sebuah pesan yang bijaksana. Kita menyadari bahwa mendaki di “death zone” ketika tubuh secara perlahan merasakan kehausan akan oksigen. Ketika sebuah kesalahan bisa berakibat fatal, dan ketika udara dingin dan angin mengancam jari dan tangan. Namun diantara kondisi itu masih ada yang ingin mencoba menciptakan sejarah.

David Breashears, yang telah membuat film tentang gunung tertinggi di dunia sebanyak sembilan kali adalah seorang cinematographer dan sutradara “Everest” yakni sebuah film yang diproduksi MacGillivray Freeman Film bekerjasama dengan perusahaan Breashers Arcturus Motion Pictures.

Breashears yang pernah mendaki Mount Everest sebanyak empat kali adalah orang Amerika pertama yang mencapai puncak dua kali dan orang pertama yang menyiarkan langsung gambar TV dari ketinggian 29,028 kaki. Professional, pantang menyerah dan berpikir positive, ia menggambarkan :

“Mendaki Everest adalah sebuah tantangan, keindahan fisik, pergerakan dan irama. Dan juga tentang resiko. Anda akan belajar mengenal diri sendiri, belajar ketika anda harus meninggalkan kenyamanan dan kehangatan juga rutinitas sehari-hari. Anda belajar bagaimana menghadapi situasi yang mungkin membahayakan jiwa. Walau nantinya akan ada penghargaan atas usaha keras, kelelahan yang amat sangat dan keletihan luar biasa dirasakan ketika bangun pagi akan hilang keesokan harinya. Dan aku merasakan tubuh makin kuat dibanding sehari sebelumnya.”

Menurut keterangan para sherpa, penganut Budha-lah yang bermigrasi dari Tibet menuju Nepal 450 tahun yang lalu dan kemudian mendiami lembah panjang yang membentang antara selatan dan timur Mount Everest.

Para sherpa meyebut gunung ini Chomolungma, Ibu Para Dewi di Bumi. Kemampuan mountaineering para sherpa yang legendaris adalah bukti nyata terhadap keberhasilan ekspedisi-ekspedisi awal upaya menaklukkan Mount Everest.

Sekitar 35 sherpa membantu pembuatan edisi film lebar Everest: bertugas memasak di Base Camp, membawa peralatan kamera IMAX hingga ke puncak dan kemanapun. Bagi Breashears dan para sherpa, menelusuri crevasses yang dalam, mendaki tanjakan, mengangkat pecahan es adalah pekerjaan yang harus dilakukan.

AGUNG AGES FIRMANSYAH | NPA.SP 08019 TIRTA JINGGA